Kemarin saya mendapat undangan sidang umum unit aktifitas waktu mahasiswa dulu.
Nah… sayangnya..saya ga bisa hadir. hiks, padahal itu SU terakhir saya sebagai anggota. Setelah itu si statusnya alumni. Nah..walau gitu..ternyata masi dibolehin nulis kata ‘perpisahan’. Hehe… hasilnya tampak seperti ini:
Untuk mencintai seseorang dengan tulus, kadang tidak membutuhkan satu pun alasan
Begitupun dengan keberadaan saya di Pustena (naon deui)
Dulu sekali
ada seseorang yang bertanya pada saya
Kenapa ko masih betah di sini?
Buat saya pertanyaan tersebut terlampau sulit untuk dijawab
Entah karena terlalu banyak alasan
atau justru memang tidak ada alasan sama sekali
Apapun itu
yang saya rasakan sampai saat ini, ada keluarga baru di sini
yang awalnya adalah makhluk asing tapi kemudian menjadi sahabat
mungkin pernah ada tangis yang terpaksa pecah
karena kesal yang tak bisa ditahan
tapi bukankah ada sejuta tawa dan senyum bahagia yang telah menghapusnya (ciee)
Saya dan 2003
tidak ada niatan sama sekali awalnya untk bergabung di sini. Tapi ada desakan dari otak secara tiba-tiba untuk menuliskan nama di form pendaftaran anggota Pustena.
Tangga yang sempit, ruang yang apek, sulit rasanya untuk percaya bahwa ruangan tersebut adalah ruangan Pusat Teknologi Tepat Guna. Bukankah harusnya ada peralatan teknolgi yang aduhai di ruangan ini. Atau setidaknya benda-benda eksentrik hasil penelitian anggotanya?
Kemudian ada seorang gadis manis yang ternyata telah setia menunggu saya untuk wawancara.Teh ari!
Awal perjumpaan yang baik dengan seseorang yang kemudian menjadi kakak, teman seperjuangan
yang paling setia untuk mengarungi masa-masa sulit di sini.
Hilang timbul… begitulah kehadiran saya di masa penerimaan anggota. Akhirnya setelah masa penantian yang panjang, saya pun menerima surat penerimaan di masa libur Lebaran yang menyatakan bahwa saya dapat menjadi bagian dari keluarga besar Pustena. Hanya satu nama perempuan di daftar tersebut: saya.
Uh…bagaimana rasanya menjadi satu-satunya perempuan di sebuah angkatan komunitas ‘mesjid’ yang didominasi pria dan belum saling kenal sama sekali. Sekarang saatnya kukatakan pada kalian, awal rasanya: menyebalkan! Diacuhkan, sering dibiarkan berdiri mematung sendiri, dan sering harus mengirim sinyal keberadaan kalo “hei…saya ada di sini lho!” Cara komunikasi yang berbeda dengan persepsi yang sering berlawanan..sering membuat capek.
Tapi itu awalnya….Lama-lama menjadi paham dan saling mengenal seiring berjalannya waktu, bukan?
Hadi, Nanda,.. akhirnya jadi pejuang 2003 yang tersisa ya? Selamat ya..hehe..tidak mudah memang.Kadang ada saat2 dimana kami ingin rasanya kabur saja…dan tidak mau menoleh ke belakang. Sebetulnya banyak temen2 2003 lain yang sempat singgah. Ada Abdul, Hfid, Erik, Dimas, Gani, Yoga, Lakso, Supra, Rohul, dan kawan-kawan lainnya. Sungguh, sering rasanya ketawa sendiri kalo mengingat masa2 saat masih lumayan komplit dulu. Dulu, mayoritas teman-teman adalah suku Jawa. Jadi ga terbayang kan saat kami ngumpul, dengan seenaknya mereka ngomong dengan bahasa Jawa, dan saya yang sunda ini dibiarkan bengong.Atau saat kami masih begitu polosnya, rapat melingkar tanpa batas hijab yang terlalu ketat sehingga bisa-bisanya membuat saya duduk menyempil diantara mereka…uh jangan ditiru kawan. Sayang… masa-masa komplit itu ga berlangsung lama. Satu persatu menghilang walau tetap masih berkomunikasi.
Tangis ada saat
Karena Pustena saya pernah menangis. Cengeng ya? Pertama, waktu saya dicuekin pas sidang presentasi Proposal. Saat itu saya sudah siap dengan satu proposal penelitian. Tapi akhirnya bingung… karena ga tau tempatnya dimana. Akhirnya memberanikan diri untuk naik ke atas. Kebayangnya sih, pas dah nyampe diatas..bakal disambut..atau gimana gitu. Eh.. ternyata, dicuekin TOTAL.
Memalukan lah pokona..sulit saya ceritakan detailnya di sini. Yang pasti saya terpaksa turun ke bawah dengan rintikan air mata..hehe.
Kedua, yang paling saya inget, waktu saya dah ngerasa kebingungan lagi mo ngapain di sini. Serasa apa yang dilakuin tuh ga berguna. Akhirnya ga kuat lagi… lapor deh ke ketua, waktu itu K Agung. Dr K Agung nyampe ke Teh Ary. Baru curhat-curhat dikit…dah ga kuat.. jadi deh kami nangis bersama… Adegan yang aneh deh pokonya…di sekre, cuman kami berdua, pelukan, nangis. Serasa nonton pelm India
Dan mungkin pernah ada tangis-tangis lain. Biasalah orang melankolis :p Tapi ya itu tadi….. kadang dengan tangis itu, malah makin membuat ikatan menjadi yang lebih erat.
Tawa itu..
Terlalu banyak kisah yang disertai senyum bahagia atau mungkin senyum konyol.Ketemu dengan adik-adik baru yang punya semangat lebih. Acara-acara ajaib yang menimbulkan banyak kesan. Obrolan-obrolan penting ga penting dimilis dan YM!
Terakhir…..acara makan2 2003. Walau cuma diikuti 5 orang, Hadi, Nanda, Dimas, Supra, dan saya…tapi tetap menyenangkan.
Ngobrol ngalor-ngidul ga jelas di restoran sarang kapitalis alias Pizza Hut (Ya…… tolong nasihati kami yang sesat ini..hehe aktifis salman ko makan2 di PH), kami bertemu dalam farewell party. Entah, kapan lagi kami bisa duduk-duduk lagi seperti itu. (eh ko jadi sedih lagi)
Akhirnya..
Sekarang… setelah empat tahun lebih, saatnya berganti status. Sudah ada adik-adik yang siap menggantikan. Nira, Esa, Iyam…Senang dan lega rasanya, ada perempuan-perempuan jagoan yang bisa tetap memiliki semangat dan masih mau bekerja keras di saat Pustena seperti ini. Pasti tidak mudah tapi saya yakin lah kalian bisa menghadapi rintangan apapun, insya allah.
Pesan saya (naon deui… sok2 ngasi petuah), awali semua selalu dengan niat baik, karena selalu ada kemudahan dariNya untuk setiap kebaikan. Dan jangan lupa untuk terus menjaga komunikasi serta ukhuwah dengan siapapun. Kalo punya masalah sama ikhwan, hajar aja, eh salah ya? maksudnya komunikasikan saja. Jangan dipendem nanti malah jerawatan (halah) dan juga bicaralah terus terang, ga perlu pake kiasan2 segala. Hehe.. percayalah, itu komunikasi yang sangat efektif sekali, bisa menghilangkan penyakit miskokom alias mis komunikasi.
Untuk kepengurusan selanjutnya, tetap semangat ya! Apapun yang terjadi pokonya semangat aja. Pesannya sama, jalin terus ukhuwah karena hanya itulah akhirnya yang akan bisa menguatkan kita dalam badai sehebat apapun (ciee..)
O,ya.. dan juga .. terima kasih banyak…. untuk kepengurusan Epul dan kawan-kawan. Cuman satu kata yang bisa menggambarkan kesan saya mengenai kalian pengurus: keren!
Ya.. sudah.. sekian saja kesan pesan dari saya, kasian yang bacain, pasti dah cape ya?hehe
Makasih dan selamat berjuang!
Hadi, Nanda.. saya tunggu undangan makan2 syukuran wisuda kalian..pis
Wassalam.



“Tangga yang sempit, ruang yang apek, sulit rasanya untuk percaya bahwa ruangan tersebut adalah ruangan Pusat Teknologi Tepat Guna.”
iya sieh…ckckckck….
” Dulu, mayoritas teman-teman adalah suku Jawa. Jadi ga terbayang kan saat kami ngumpul, dengan seenaknya mereka ngomong dengan bahasa Jawa, dan saya yang sunda ini dibiarkan bengong”
makanya ke lantai bawah…urang sunda sadayana…hahhaha…
-penghuni lantai dasar gd.kayu-