Ada request u/ menuliskan apa yang terjadi di pagi kemarin, yang kemudian membawa pikiran ke dalam memori2 tiga taunan selama di Alkemis.
Tahun pertama (2005)
- Harus rela mendapat giliran jaga kantor per minggunya karena belum ada karyawan yang btugas jd officer. Duduk manis di depan meja, menunggu pelanggan, baca-baca buku yang lagi nongkrong di kantor, nulis-nulis bukom, sambil curi2 waktu u/ jalan ke istek. Kl diinget-inget, entah kenapa kl saya yang nunggu ga ada pelanggan yang dateng ya, hehe. Perasaan dalam sejarah cuman pernah nanganin satu orang, itu juga pas kantor dah mau tutup :p
- Rapat tiap sabtu ditemani sang dinding pembatas, pertemuan bulanan, inisiasi bikin kurikulum + soal.
Tahun kedua (2006)
- Udah ada karyawan, ga usah jaga2 kantor lagi
- Manajemen penghasilannya lebih kecil dari karyawannya, saat itu seinget saya mah, kami ‘manajer’ tak ber-uang, dengan pemasukan ke kantong pribadi = 0 IDR, hehe. Tapi kita tetep semangat lho.. =D. Karena buatku apa yang didapat di sana jauh melebihi nilai uang berapapun.
- Mulai pindah2 kantor
Tahun ketiga (2007)
- Diawali dengan tidak indah, dari 5 orang menjadi 3 orang. Seperti yang dulu pernah ditulis di postingan yang ini dan yang ini. Tapi akhirnya hubungan kita berlima jadi baik2 aja ko…
- Kebijakan baru yang akhirnya berimplikasi dengan adanya pemasukan bulanan bagi manajemen.
- Investasiku lunas…..hehe.. lama bgt ya ngutang ya. Maaf T_T
- Kebijakan baru lagi, tim manajemen dibubarkan sehingga status saya pun berubah menjadi ‘hanya’ ‘pemegang saham’. k’Pri jadi Direktur Alkemis(eh tepat ga ya istilahnya??), k’Agah merambah ke bisnis baru DELICOPY. Saya?? hhm, terjebak dalam TA + zona nyaman dan kemudian memutuskan bekerja untuk belajar.
Tahun ketiga pun ditutup dengan manis dengan kedatangan k’ Agah yang rela jauh2 dateng k kantor tempat saya nyambi sekarang untuk memberikan deviden yang buatku jumlahnya sudah menggembirakan sampai2 dalam status YM! pun tertulis “Aww… senangnya”. Buatku itu jadi penghasilan yang masuk kantong tanpa harus ‘bkerja’.
Kesimpulan yang kudapat setelah menengok memori tiga taunan itu adalah : Sabar!
Selain ikhtiar dan doa, kesabaran adalah sikap yang perlu ada dalam menjalankan apapun termasuk berwirausaha (menurut saya si). Ada saat2 jenuh, ada saat2 penuh ketidakpastian, ada saat2 tak ada untung, ada saat2 konflik dengan teman, ada ketidaknyamanan, ada perasaan merasa ga guna, semua itu pernah dialami selama tiga taun tersebut. Dan hanya kesabaran dan keyakinanlah hal tersebut dapat terlewati. Insya allah akan ada akhir yang manis setelah berpeluh, bukan?.
*aduh berat bgt bikin tulisan kaya gini secara saya juga masi dalam tahap belajar. Anggap sajalah ya tulisan ini sebagai celotehan kecil seseorang yang baru menyentuh sedikit babak baru dr “the real world”


